Pages

Senin, 20 Maret 2017

Rumah di Pantai Boom Rata Tanah

PT. Pelabuhan Indonesia (Pelindo) akhirnya merealisasikan rencana pembongkaran rumah dan bangunan yang berlokasi di kawasan Pantai Boom, Banyuwangi, kemarin (19/3). Tidak ada perlawanan berarti dari warga yang selama ini tinggal di  lahan milik perusahaan pelat merah tersebut.
Pantauan wartawan Jawa Pos Radar Banyuwangi, pembongkaran rumah dan bangunan tersebut dikawal ketat aparat. Selain itu, pihak Pelindo juga mengerahkan kendaraan berat jenis backhoe untuk meratakan rumah dan bangunan di lokasi yang bakal dijadikan kawasan pelabuhan  marina tersebut.
Selain bangunan yang dibongkar dengan backhoe, ada pula beberapa warga yang melakukan pembongkaran rumah mereka sendiri. Di sisi lain, ada pula warga yang menolak rumahnya dibongkar. Mereka meminta waktu kelonggaran untuk  mengosongkan kediaman yang telah ditempati selama bertahun-tahun.
Salah satu warga, Kamsiadi, mengatakan pada dasarnya dirinya menyadari bahwa lahan yang dia  tempati bukanlah hak miliknya. Namun demikian, dia meminta kelonggaran waktu selama satu hingga dua pekan untuk mengosongkan rumah yang dia tempati bersama istri dan delapan putranya tersebut.
“Saya berharap rumah  saya ini tidak dirobohkan pakai  backhoe. Saya minta waktu satu sampai dua pekan. Setelah itu  akan saya bongkar sendiri,” ujarnya. Kamsiadi menambahkan, selain untuk mengosongkan rumah,  kelonggaran waktu dibutuhkan  untuk melakukan pembongkaran secara mandiri. Dengan demikian, beberapa material bangunan, seperti genting, kayu, dan lain-lain bisa diselamatkan.
“Saya menyadari lahan ini bukan hak milik saya. Tetapi saya minta waktu satu atau  dua pekan. Setelah rumah ini saya bongkar, saya akan mencari kontrakan,” kata dia. Dikatakan, selama ini dirinya tinggal di kawasan Pantai Boom dengan berpegang pada perjanjian  kontrak dengan Pelindo.
Dia  mengaku selama ini membayar  uang sewa lahan sebesar Rp 500  ribu setiap tiga tahun.  Slamet Hariyadi, 38, warga yang lain menambahkan, warga yang tinggal di kawasan Pantai Boom telah mendapat dana kerohiman sebesar Rp 4,5 juta per kepala keluarga (KK).
Uang kerohiman yang  terkumpul dari sekitar 133 KK  tersebut dimanfaatkan untuk  membeli tanah secara kolektif di  wilayah kelurahan  Klatak, Kecamatan Kalipuro. “Hasilnya, masing-masing KK mendapat tanah seluas 5 meter kali 5 meter,” akunya.
Slamet menambahkan, dirinya dan mayoritas warga Pantai Boom yang lain memilih untuk sementara tidak menempati tanah yang mereka beli secara kolektif tersebut.  Sebab, belum ada sambungan listrik dan air bersih di lokasi  tersebut.
“Selain itu, hal lain yang  cukup memberatkan kami adalah  lokasinya yang terlalu jauh dari tempat kami bekerja. Mayoritas warga sini (Pantai Boom) bekerja sebagai nelayan atau kuli angkut ikan,” cetusnya. Sementara itu, General Manager  (GM) PT Pelindo Cabang Pembantu  (Capem) Banyuwangi, Edi Sulaksono, menuturkan sebelum melakukan pembongkaran, pihaknya telah melayangkan surat pemberitahuan sebanyak tiga kali.
“Alhamdulillah warga menerima. Sehingga pembongkaran hari ini  (kemarin) berjalan lancar. Bahkan  ada beberapa warga yang melakukan pembongkaran sendiri,” akunya. Edi menambakan, pihaknya telah memberikan dana kerohiman  kepada warga yang selama ini tinggal di kawasan Pantai Boom.
Bahkan, sebelumnya pihak Pelindo juga telah mengajukan alternatif  lokasi relokasi bagi warga, yakni  di lahan milik PT. Kereta Api Indonesia (KAI) di wilayah Desa Ketapang. Namun, rencana relokasi ke Ketapang gagal direalisasikan lantaran mayoritas warga menolak  dengan alasan terlalu jauh dari  tempatnya bekerja.
“Jadi, setelah  memberikan dana kerohiman, kami bebaskan mereka mau pindah  ke mana,” pungkasnya.

Geram, Warga Tangkap Pencuri Janur Kuburan

Aksi pencuri janur di Dusun Krajan, Kelurahan Sumberejo, Banyuwangi seolah tidak mengenal waktu. Kendati masih pagi, komplotan pencuri ini nekat melakukan aksinya. Apesnya, belum sempat membawa pulang hasil jarahannya, aksi  komplotan maling janur berjumlah  lima orang tepergok warga.
Mereka sempat diamankan di  kantor Kelurahan Sumberejo. Warga geram dan menangkap komplotan spesialis maling janur ini lantaran beraksi di tanah makan di  Dusun Krajan, Desa Sumberejo.  Sejatinya ada lima pencuri yang beraksi pukul 10.00 tersebut.
Namun, yang berhasil diamankan hanya empat pencuri. Satu pelaku di ketahui kabur saat warga melaporkan kejadian ini  kepada pihak yang berwenang.  Keempat pelaku yang tidak sempat kabur dan saat ini sedang menjalani pemeriksaan di Polsek Banyuwangi.
Informasi yang diperoleh Jawa Pos Radar Banyuwangi, identitas  keempat orang itu masing-masing,  As, 39; warga Dusun Krajan, Desa Pendarungan, Kabat, SA; Su, 34;  dan SN, 35. Ketiga pelaku ini tercatat  sebagai warga Dusun Kopen Cungking, Desa Kampunganyar, Glagah.
Sementara pelaku yang kabur  di ketahui berinisial A, informasinya satu pelaku kabur itu merupakan warga Desa Bangsring,  Kecamatan Wongsorejo. Menurut  keterangan warga setempat,  komplotan ini di amankan warga  saat menurunkan janur yang  berhasil dipotong dari pucuk  pohon kelapa di tanah makam. Warga yang melihat aksi keempat  orang ini langsung mengamankan  mereka.
”Menurut keterangan warga yang pertama kali tahu,  pencurian ini berlangsung pukul 10.00. Mereka mengambil janur pohon kelapa di tanah makam tanpa izin,” kata Suroso, Lurah Sumberejo kepada Jawa Pos Radar Banyuwangi. Menurut Suroso, di area tanah makam tersebut memang terdapat  belasan pohon kelapa.
Selama ini  janur di tanah makam memang sudah sering menjadi target dari para maling yang beraksi. Warga menduga pelaku ini adalah orang  yang biasa mencuri janur di tempat itu. ”Selain di lokasi tanah makam,  janur di wilayah sini juga sering  hilang,” tandas Suroso.
Hal senada disampaikan Imam,  salah satu warga yang ikut melakukan penangkapan. Menurutnya, selama ini warga dibuat jengkel dengan aksi pencuri janur di lingkungannya. Sehingga begitu pagi itu warga melihat ada komplotan maling mengambil janur, warga langsung mengamankannya dan  melaporkan kejadian ini ke Polsek Banyuwangi.
“Tadi sebenarnya  ada 5 orang, tapi yang satu kabur,”  tambah Imam.  Setelah mendapati laporan ini, petugas dari Polsek Banyuwangi  langsung datang ke tempat kejadian  perkara (TKP) dan mengamankan empat komplotan maling janur itu.
Barang bukti janur yang diketahui  dipotong dari sepuluh pohon juga dibawa polisi. Petugas juga mengamankan empat motor milik pelaku ke Polsek Banyuwangi. Saat itu juga mereka menjalani pemeriksaan Sementara itu, hingga berita ini  ditulis masih belum ada konfirmasi  dari Kapolsek Banyuwangi, AKP Ali Masduki terkait kasus ini dan  apa sebenarnya peran dari empat  pelaku yang diamankan ini.
Jawa  Pos Radar Banyuwangi pun sempat  menghubungi nomor telepon Kapolsek,  namun belum ada jawaban. Pesan singkat yang disampaikan juga belum direspons oleh  Ali Masduki.

Hamili Pacar, ABG Digiring ke Sel

Diduga telah menghamili pacarnya, RB, 16, asal Desa Tamanagung, Kecamatan Cluring, ditangkap oleh anggota polsek setempat kemarin (19/3). Untuk sementara, tersangka itu diamankan di ruang tahanan polsek sambil menjalani pemeriksaan.
Polisi yang menangkap tersangka itu, setelah sebelumnya mendapat laporan dari orang tua korban, SY, 16. Dalam laporannya pada polisi, orang tua korban yang tinggal di Desa Tampo,  Kecamatan Cluring, itu tidak terima karena putrinya telah hamil 1,5 bulan.
“Dari laporan keluarga korban, tersangka kita jemput di rumahnya,” cetus Kapolsek Cluring, Iptu Bejo Madrias. Menurut kapolsek, dugaan persetubuhan yang dilakukan oleh pasangan anak baru gede (ABG) itu, bermula saat perkenalan saat keduanya sama-sama sekolah SMP  di wilayah Kecamatan Cluring.
“Pasangan remaja ini mengakunya pacaran,” katanya. Dalam keterangan pada polisi, hubungan layaknya suami istri yang dilakukan  pasangan remaja itu, terjadi hingga enam kali. Pertama, jelas dia, mereka melakukan di rumah tersangka pada 30 Januari 2017.
“Tersangka menghubungi korban melalui hand phone (HP) agar datang ke  rumahnya,” ujarnya.  Dari kontak HP itu, jelas dia, korban datang ke rumah tersangka sendirian. Selama berada di rumah, keduanya hanya ngobrol biasa. “Saat korban akan pulang karena malam, oleh tersangka dilarang dan diajak menginap, saat menginap itulah korban dikerjai,” ungkapnya.
Sukses melancarkan aksinya itu, ternyata membuat tersangka ketagihan. Sepekan kemudian, tepatnya pada 6 Februari  2017, pelaku kembali menghubungi korban untuk datang ke  rumahnya. Saat korban datang, kejadian main kuda lumping  kembali terjadi.
“Lalu empat hari kemudian atau tanggal 10  Februari 2017, pelaku kembali meminta korban untuk datang ke rumahnya, dan korban mengaku juga dikerjai oleh tersangka,” bebernya. Bukan hanya itu saja, kapolsek menjelaskan kejadian serupa juga terjadi pada 13 Februari 2017.
“Dari keterangan korban,  pelaku menyetubuhi korban  sampai enam kali dari empat  pertemuan itu dan kini hamil 1,5 bulan,” katanya.  Dari keterangan korban, masih kata kapolsek, tersangka  berjanji akan segera menikahi. Tapi sampai hamil, pacarnya yang  hanya lulusan SMP itu mengingkari.
“Keluarga korban sempat menunggu kejelasan, karena tetap tidak ada kejelasan akhirnya lapor ke polsek,” terangnya.  Dari laporan orang tua korban itu, polisi langsung melakukan penyelidikan dengan sebelumnya memeriksa korban dan saksi  lainnya. Polisi juga minta   visum  korban ke dokter.
“Setelah keterangan saksi kuat dan bukti  juga ada, tersangka kita tangkap di rumahnya,” katanya.

Ayam Serama Unjuk Kebolehan dalam Menari

Puluhan ayam serama berukuran mungil dengan dada dempal, beradu ketangkasan di lapangan  RTH Maron, Desa Genteng Kulon, Kecamatan Genteng kemarin (19/3).  Di atas papan yang telah disiapkan, sejumlah ayam serama dari berbagai  daerah di Jawa dan Bali itu menari  dengan iringan musik.

Salah satu pemilik ayam serama,  Hariyanto, 30, asal Dusun Sumberwadung, Desa Kaligondo Kecamatan Genteng, mengatakan ayam-ayam  berukuran kecil sedang dilombakan. Untuk penilaian tidak hanya pada  bentuk dada yang ditonjolkan, tapi juga berdasarkan tingkah dan gerakan ayam dalam mengikuti irama musik.
“Selain dadanya, ayamnya harus lincah,” katanya.  Memelihara ayam jenis serama ini,  terang dia, sebenarnya tidak jauh beda dengan ayam pada umumnya. Semua  jenis pakan sudah tersedia di tempat  kelengkapan ternak unggas. “Memeliharanya tidak beda dengan ternak  ayam lainnya,” jelasnya.
Sementara itu, Deni Komel, 42, asal Dusun Curah Pecak, Desa/Kecamatan Purwoharjo, mengatakan prospek bis- nis ayam serama itu sebenarnya cukup menjanjikan. Harga per ayam yang masih anakan, itu mencapai Rp 200 ribu. “Usaha ayam ini cukup lumayan,” katanya.
Di Kabupaten Banyuwangi, jelas dia, perkembangan ayam serama  itu cukup dinamis. Hanya saja, untuk event kontes khusus  ayam serama masih jarang. Sampai saat ini, kontes ayam serama baru tiga kali digelar. “Yang pertama itu sekitar tahun 2012,” ujarnya.
Lambannya perkembangan  ayam serama, menurut Deni karena disebabkan faktor sosialisasi. Selain itu, juga adanya  transisi ayam antara ayam lokal  dan impor. “Kita sosialisasi memang kurang, terus sempat ada transisi ayam,” jelasnya.
Jumlah warga yang masih  eksis memelihara ayam serama, juga belum banyak. Yang diketahui, warga di Kabupaten  Banyuwangi yang punya ayam  serama baru sekitar 15 orang. Untuk memajukan eksistensi  ayam serama, pihaknya sedang  menggandeng beberapa pihak, termasuk dinas peternakan. “Kita akan menggandeng pihak karantina dan dinas peternakan,” katanya.

Warga Bantah Setuju Pemasangan Listrik

Klaim PT BSI yang menyebut pemasangan jaringan listrik PLN telah disetujui warga, ternyata ditentang oleh warga yang tinggal di sekitar lokasi tambang emas Gunung Tumpang Pitu Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran.

Penolakan pemasangan jaringan itu, itu dilakukan dengan aksi yang digelar pada Sabtu sore  (18/3). Mereka juga mengirim  release yang ditandatangani,  Yogi Turnando, Armi, dan Taufiq dari FNKSDA Banyuwangi. Dalam release yang dikirim ke  Jawa Pos Radar Genteng, aksi  yang digelar pada Sabtu sore (18/3), itu bukti kalau mereka  tidak pernah sepakat dengan  pembangunan jaringan listrik untuk perusahaan tambang di  Gunung Tumpang Pitu.
“Kami  menghentikan aksi bukan karena sepakat dengan perusahaan, tapi karena diintimidasi oleh keamanan,” cetus Yogi, Armi,  dan Taufiq dalam relesenya. Penolakan warga atas tambang emas di Gunung Tumpang Pitu,  itu telah berlangsung sejak 2008.  Namun puluhan unjuk rasa warga, tidak membuat pemerintah  daerah, provinsi, dan pemerintah pusat menghentikan atau mencabut izin usaha pertambangan.
Pemerintah lebih berpihak memfasilitasi kepentingan perusahaan tambang daripada melindungi keselamatan warga dari bahaya tambang, seperti ancaman limbah sianida dan  ancaman krisis air. Sementara itu, Kapolsek Pesanggaran AKP Sudarsono saat   dikonfirmasi terkait aksi warga  itu menyatakan memang ada aksi pada Sabtu sore.
“ Ya ada  aksi, Mas, ini tadi saya balik  kanan dari sana,” jelasnya.  Seperti diberitakan harian ini sebelumnya, setelah sempat dihadang oleh warga, pembangunan jaringan listrik PLN menuju kawasan tambang emas PT BSI  di Gunung Tumpang Pitu, Desa Sumberagung, Kecamatan  Pesanggaran, akhirnya tuntas dikerjakan.
Penegasan itu disampaikan  oleh Senior Manager External  Af airs BSI, Bambang Wijonarko, dalam release yang dikirim ke  media kemarin (16/3). “Kami  menyampaikan terima kasih atas pengertian masyarakat terhadap pembangunan jaringan  listrik PLN menuju tambang PT   BSI,” katanya.
Bambang mengaku telah manajemen BSI telah melakukan dialog dengan masyarakat yang sebelumnya mencoba menghalangi pemasangan kabel listrik dari PLN. Dalam dialog  itu, BSI sepakat meningkatkan  komunikasi dengan masyarakat.
Selain itu, dalam penambangan  PT BSI akan selalu memberikan  rasa aman bagi masyarakat di sekitar wilayah tambang emas.  “Kami selalu terbuka untuk berdialog dengan masyarakat, apalagi dengan kepemilikan saham  oleh pemkab, BSI juga menjadi  bagian dari aset Pemkab Banyuwangi,” tambahnya.

Siapkan Rute Jakarta-Banyuwangi, Runway Bandara Blimbingsari Dipertebal

Dalam waktu tidak  lama lagi, rencana direct light Banyuwangi-Jakarta dari dan ke Bandara Blimbingsari menggunakan pesawat Boeing 737-600 segera menjadi kenyataan. Mulai minggu ini, proyek penebalan run way mulai dikerjakan dan ditarget  tuntas dalam waktu 30 hari.
Kepala Bandara Blimbingsari Banyuwangi Dodi Dharma Cahyadi mengatakan, agar pesawat Boeing 737 bisa mendapat, maka beberapa fasilitas Bandara Blimbingsari harus dibenahi. Beberapa fasilitas itu antara lain panjang dan ketebalan run way, apron, fasilitas pengisian bahan bakar dan infrastruktur lainnya.
Saat ini panjang run way bandara Blimbingsari 2.250 meter dengan lebar 30 meter. Sepanjang 1.800 meter tebalnya belum memenuhi syarat hanya 27 pavement classiication number (PCN) dan hanya bisa  digunakan untuk jenis pesawat ATR. Agar  pesawat Boeing bisa mendarat, maka  idealnya panjang landasan harus 2.500  meter dengan tebal landasan 39 PCN.
Pada tahun 2017, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sudah menyediakan anggaran overlay penetebalan landasan. Proses lelang untuk  menambah ketebalan bandara telah  rampung. “ Minggu depan akan dilaksanakan pekerjaan penebalan bandara  dengan PCN 39, “ katanya.
Setelah pekerjaan penebalan run way  selesai, maka tahap berikutnya adalah  verifikasi Kementerian Perhubungan. Dengan penambahan kekuatan landasan  pacu menjadi 39 PCN, maka Bandara  Blimbingsari dapat melayani penerbangan pesawat Boeing 737-600 dengan  kapasitas 130-an penumpang
“Kami perkirakan akhir bulan depan landasan sudah siap,” jelas Dodi. Dari hasil koordinasi yang dilakukan bersama Pemkab Banyuwangi, pesawat   yang dipakai oleh maskapai untuk rute Jakarta-Banyuwangi sudah sesuai dengan  kondisi teknis bandara pasca penebalan  landasan.
“Intinya, Bandara Blimbingsari  sudah sangat memadai untuk menyambut rute baru tersebut saat mudik ,” terangnya Bupati Abdullah Azwar Anas mengatakan, rute baru itu akan mempersingkat perjalanan menuju di Banyuwangi. Selama ini, wisatawan baik domestik  maupun mancanegara yang berangkat  dari Jakarta untuk menuju ke Banyuwangi harus transit dulu di Bandara Juanda,  Surabaya, setelah itu baru menuju ke  Banyuwangi.
“Tentu dengan direct light Jakarta-Banyuwangi, para wisatawan, dunia usaha, maupun masyarakat luas bisa lebih hemat waktu karena pesawat langsung menuju ke Banyuwangi,” kata Anas.  Anas mengatakan, sudah ada beberapa maskapai yang berminat menggarap  penerbangan langsung Jakarta-Banyuwangi.
“Ada beberapa, tapi masih belum bisa disampaikan, karena terkait keputusan bisnis masing-masing maskapai.  Yang jelas, dari data historis dan prospek, Bandara Banyuwangi sangat diminati,”  jelasnya.

900 Peserta Ikuti Tryout di SMPN 1 Cluring

menggelar tryout untuk siswa SD/MI kemarin (19/3). Kegiatan yang digelar sehari itu, diikuti oleh 900 peserta yang datang dari  berbagai sekolah di Kabupaten  Banyuwangi. Meski acara itu baru dimulai
pada pukul 08.00, tapi sekitar pukul 06.00 para peserta sudah banyak yang berdatangan di sekolah dengan tagline Sekolahnya Sang  Juara itu.

“Tryout untuk siswa SD/MI ini rutin kita gelar setiap tahun,” cetus Kepala SMPN 1 Cluring, Sudarman.  Setiap tryout ini digelar, terang  dia, para peserta terus meningkat. Untuk tahun ini, jumlahnya  mencapai 900 peserta. “Tahun ini pesertanya sangat luar biasa, mereka tidak hanya dari Kecamatan Cluring saja, tapi banyak yang dari Kecamatan Rogojampi, Genteng, Kalibaru, dan Pesanggaran,” ungkapnya.
Tingginya peserta dan dari berbagai  daerah itu, terang dia, menunjukkan SMPN 1 Cluring yang selama ini penuh dengan prestasi di bidang  akademik dan nonakademik, benar-benar diminati oleh masyarakat. “SMPN 1 Cluring selama ini telah  banyak menorehkan prestasi hingga  tingkat nasional,” cetusnya.
Tryout untuk para siswa SD/MI ini,  jelas dia, dilaksanakan sebagai upaya membantu para siswa dalam menghadapi ujian nasional. Selain itu, sekolahnya juga mencari calon siswa yang  berkualitas.
“Anggap tryout ini untuk uji coba ujian nasional,” terangnya. Koordinator tim O2SN SMPN 1 Cluring, Suhaimi, menambahkan melalui tryout ini juga untuk mengenalkan seluk beluk  lingkungan SMPN 1 Cluring. Para siswa SD/MI yang mengikuti kegiatan ini, bisa melihat perpustakaan out door dan hasil kreasi para siswa yang ada  di SMPN 1 Cluring.
“Kita juga kenalkan prestasi sekolah,” katanya. Suhaimi menyebut, dalam O2SN tingkat Kabupaten Banyuwangi yang digelar pada 16-17  Maret 2016, SMPN 1 Cluring bisa  membawa pulang medali dalam  kejuaraan karate untuk putra dan putri.
“Dalam kejuaraan renang, pencak silat, dan atletik tri lomba juga membawa pulang  medali,” ungkapnya dengan bangga. 
 

Blogger news

Blogroll

About